Assalammualaikum, selamat datang kelas IPS. Disini guru akan membahas pelajaran Geografi yaitu Hai”Sedimen klastik“. Berikut penjelasannya di bawah ini:

Batuan sedimen

Batuan sedimen merupakan salah satu jenis batuan penyusun lapisan bumi yang mudah dijumpai pada lapisan atas tanah. Berdasarkan informasi dari Ganesha, menurut keikutsertaannya dalam proses pengangkutan, batuan sedimen dikelompokkan menjadi dua, yaitu batuan sedimen klastik dan batuan sedimen non klastik. Apa yang dimaksud dengan batuan sedimen klastik? Di bawah ini adalah penjelasan rinci tentang pengertian, proses pembentukan dan contoh batuan sedimen klastik.


Contents

Pengertian batuan sedimen klastik

Kata ‘klastik’ adalah kata Yunani yang berarti ‘jatuh’. Berdasarkan informasi dari Pettjohn (1975), batuan sedimen klastik adalah batuan sedimen yang terbentuk akibat pengendapan detritus atau fragmen batuan induk berupa batuan metamorf, batuan beku, atau batuan sedimen itu sendiri. Definisi lain dari batuan sedimen klastik adalah jenis batuan sedimen (sedimentary rock) yang diperoleh dari proses sedimentasi batuan beku atau material padat lainnya yang mengalami keausan mekanis.

Batuan sedimen klastik juga dapat diartikan sebagai batuan yang diperoleh melalui evolusi ukuran atau pemecahan batuan besar menjadi batuan yang lebih kecil secara mekanis, sehingga sifat kimiawi batuan tersebut masih sama dengan batuan induknya. Untuk mengetahuinya, kita dapat mengambil contoh pelapukan batuan gunung. Batu gunung besar hancur karena erosi batu. Hasil pelapukan ini berupa batuan-batuan kecil yang kemudian terbawa air sehingga terendapkan di sungai sebagai batupasir.


Proses pembentukan batuan

Proses pembentukan batuan sedimen klastik diawali dengan pelapukan batuan sedimen itu sendiri dan jenis batuan lainnya. Hasil pelapukan berupa debris yang terbawa aliran air, yang kemudian terendapkan di sungai, danau atau lahan basah. Pengendapan dilakukan secara mekanis, yang terbagi menjadi 2 jenis sesuai dengan gambaran ukuran butir batuan. Batuan berukuran besar terbentuk sebagai hasil dari proses pengendapan segera setelah letusan gunung berapi. Pengendapan langsung ini terjadi di sungai, danau atau laut yang berada di dekat gunung berapi. Batuan yang terbentuk akan dikategorikan sebagai batuan detrital kasar. Sedangkan batuan berukuran kecil terbentuk akibat proses pengendapan yang terjadi di zona laut dangkal dan laut dalam.

Dalam proses pengendapan, batuan sedimen akan mengalami diagenesis. Disebut diagenesis karena proses yang akan berlangsung pada material sedimen berlangsung pada suhu rendah, baik di sekitar litifikasi maupun sesudahnya. Diagenesis ini bertujuan untuk menjadikan material sedimen menjadi batuan keras. Tahapan diagenesis meliputi:

  1. Pemadatan sedimen – Pada tahap diagenesa pertama ini, material sedimen akan memadat satu sama lain. Kompresi terjadi akibat adanya tekanan berupa beban berat yang berasal dari atas material sedimen. Setelah kompresi, volume material sedimen akan berkurang, sedangkan kerapatan antar butir akan meningkat.
  2. Sementasi – Pada tahap kedua disebut sementasi, material pada salah satu rongga butir sedimen akan mengendap dan mengikat butir sedimen lainnya.
  3. Rekristalisasi – Tahap ini merupakan proses rekristalisasi mineral. Mineral-mineral tersebut diperoleh dengan proses pelarutan bahan sedimen sebelum dan sesudah diagenesis.
  4. Authigenesis – Pada fase autigenesis, mineral yang merupakan partikel baru dalam sedimen akan terdistribusi. Mineral adalah silikon, karbonat, gipsum, klorit dan sebagainya.
  5. Metasomatisme – Tahap terakhir adalah metasomatisme, yaitu penggantian material sedimen tanpa mengurangi volume material aslinya.

Contoh batuan sedimen klastik

Ada banyak contoh batuan sedimen klastik, besar dan kecil. Berikut contoh batuan sedimen klastik beserta penjelasannya.


Contoh pertama batuan sedimen klastik adalah batuan konglomerat. Batu ini memiliki struktur berbutir kasar dengan ukuran fragmen berkisar antara 2 – 256 mm. Bentuk pecahan konglomerat membulat. Bentuk ini merupakan hasil dari proses pengangkutan mineral-mineral penyusunnya. Konglomerat terdiri dari banyak mineral seperti granit, batu api, kuarsa dan lain-lain. Mineral-mineral penyusun konglomerat hanya bisa satu jenis saja, bisa juga bercampur.


Contoh lain dari batuan sedimen klastik adalah breksi. Butiran dalam breksi memiliki sifat kasar. Hal ini karena mineral penyusunnya terdiri dari kuarsa, kuarsit, granit, batugamping dan batugamping. Ukuran fragmen breksi hampir sama dengan ukuran fragmen konglomerat yang dikelompokkan menjadi batuan besar. Kecuali fragmen breksi yang runcing dan bersudut, sedangkan konglomerat berbentuk bulat. Fragmen breksi terbentuk dari akumulasi fragmen yang mengumpul dan mengendap di dasar lereng. Fragmen juga dapat diperoleh dari hasil longsoran yang mengalami litifikasi.


Contoh ketiga adalah batupasir, yang juga disebut batu bulat. Batupasir tergolong batu dengan ukuran butir kecil, yaitu ukuran matriksnya hanya antara 0,1 – 2 mm. Komposisi batupasir bervariasi. Beberapa terdiri dari bijih besi, fragmen serpih, klorit, riolit dan basal. Beberapa terdiri dari mineral kuarsa dan feldspar yang keberadaannya tersedia di kerak bumi.

Batupasir didominasi oleh warna gelap seperti abu-abu, coklat dan merah. Namun ada juga yang berwarna cerah, misalnya batupasir putih atau kuning. Batupasir biasanya ditemukan melimpah di ekosistem pesisir. Batu-batu itu terbawa arus gelombang laut dan angin laut.


Contoh keempat adalah shale atau serpih. Seperti batupasir, serpih juga memiliki ukuran butir (matriks) yang kecil, bahkan paling halus. Sangat halus sehingga mineral penyusunnya sulit dipelajari. Namun, para ahli dapat mengidentifikasi sejumlah mineral yang ditemukan dalam serpih, termasuk kaolite, smectite, illite, oksida besi, karbonat, kuarsa, sulfida, dan bahan organik. Bahan organik penyusun batuan serpih menyebabkan warna batu. Shale yang mengandung bahan organik akan berwarna gelap, dari abu-abu sampai hitam. Selain itu, ada shale yang berwarna cerah seperti merah dan kuning. Warna cerah tersebut disebabkan batuan serpih yang terbentuk di lokasi yang banyak mengandung oksigen.


Contoh terakhir dari batuan sedimen klastik dalam ulasan ini adalah batulempung. Batu ini terdiri dari mineral silika, alumina, kaolin, vermikulit, haloisit dan lain-lain. Ukuran mineralnya sangat kecil, seperti serpih, yaitu kurang dari 2 mm. Ada dua jenis tanah liat, tanah liat sisa dan tanah liat yang diletakkan. Claystone banyak digunakan untuk pembuatan keramik, tembikar, ubin, dan juga sebagai bahan baku pembuatan semen portland.


Demikian penjelasan IPS-Geografi HAI Batuan sedimen klastik adalah: Proses pembentukan dan contohnya

Semoga materi hari ini bermanfaat bagi para siswa, terima kasih!!!


Baca artikel lainnya:

Web Seputar Pengetahuan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *