Assalammualaikum, selamat datang kelas IPS. Disini guru akan membahas pelajaran sejarah yaitu Hai”Pakaian adat Aceh“. Berikut penjelasannya di bawah ini:

Pakaian adat Aceh merupakan kekayaan budaya bangsa yang harus terus dilestarikan dan dipertahankan oleh setiap generasi sekarang dan yang akan datang. Budaya ini merupakan kebanggaan bangsa Indonesia di mata dunia internasional yang tidak bisa dinilai hanya dengan materi. Nilai sejarahnya sangat mahal dan negara lain tidak bisa mengklaimnya seperti dulu.
Jika diteliti dengan seksama, ternyata banyak sekali nilai-nilai yang terkandung dalam pakaian adat masyarakat Aceh. Mulai dari pemilihan nama baju hingga bahan yang digunakan untuk menutupi kulit manusia. Nama pakaian adat Aceh memang berbeda dengan nama pakaian adat dari daerah lain. Nama-nama yang ada menggunakan bahasa daerah sebagai cirinya.
Hampir setiap acara mewajibkan masyarakat Aceh mengenakan pakaian adatnya, mulai dari khitanan, pernikahan hingga acara kenegaraan.
Selain nama dan bahan pakaian adat Aceh, warna juga menjadi ciri yang menarik banyak mata untuk melihatnya. Perpaduan warna satu jam dengan jam lainnya menjadikan Aceh unik dalam menampilkan budayanya.
Di bawah ini adalah beberapa pakaian adat Aceh, yaitu sebagai berikut:
Contents
1. Pakaian adat Aceh modern
Berikut ini adalah beberapa pakaian adat Aceh modern, yaitu sebagai berikut:
-
Pakaian lembut

Baju sutera ini disebut baju meusakah, baju ini pada dasarnya berwarna hitam. Menurut kepercayaan adat Aceh, warna hitam dilambangkan sebagai keagungan. Kita bisa menemukan sulaman benang emas yang sekilas terlihat seperti kerah Cina. Bagaimana bisa? Menurut sejarahnya, hal itu disebabkan oleh perpaduan budaya Aceh dan budaya Tionghoa yang dibawa oleh para pedagang dan pelaut dari Tiongkok.
-
Celana sileuweu

Tak berbeda dengan baju meusakah, celana yang dikenakan dengan baju meusakah juga berwarna hitam. Uniknya, dalam bahasa Aceh Sileuwe berarti celana. Celana ini terbuat dari bahan katun. Menurut sumber, celana ini disebut juga dengan “Periksa Pants Musang” yang merupakan celana tradisional melayu.
Celana sileuweu juga dilengkapi dengan kain sarung sutera untuk menambah kewibawaan. Sarung yang digunakan biasanya seperti sjaet sangket, hanya kung atau mito.
Celana ini diikat di pinggang, membatasi panjang lutut hingga sepuluh sentimeter di atas lutut.
-
Rencong

Selain pakaian, celana, dan tutup kepala, senjata tradisional Aceh, rencong, juga tak luput. Namun senjata tersebut tidak digunakan untuk perang, melainkan sebagai aksesoris tambahan pada pakaian adat Aceh.
Rencong sendiri merupakan senjata tradisional Aceh dan simbol identitas, ketangguhan dan keberanian masyarakat Aceh. Umumnya rencong diselipkan pada lipatan kain sarung di pinggang, gagang rencong akan menjulur seperti keris Jawa.
Rencong memiliki tingkatan, khusus untuk sultan, rencong terbuat dari emas dan diukir dengan kutipan ayat-ayat Alquran. Untuk rencong biasa umumnya terbuat dari kuningan, perak, besi putih, gading dan kayu. Rencong menggantikan lambang Bismillah dalam Islam.
-
Meukeotopik

Karena budaya Islam yang mempengaruhi adat dan masyarakat Aceh, tengkorak meukotop adalah hiasan kepala khas Aceh yang digunakan sebagai penutup pakaian adat Aceh. Kopling meucotop ini menampilkan hiasan tengkorak oval yang dilengkapi balutan bintang segi delapan dari kain sutra tenun emas.
Kopiah Meukotop memiliki makna filosofis dan estetis yang direpresentasikan dalam lima warna yang masing-masing memiliki makna tersendiri.
Warna merah berarti kepahlawanan, kuning berarti negara atau kerajaan, hijau berarti agama Islam, hitam berarti keteguhan dan stabilitas, yang terakhir putih berarti kemurnian dan ketulusan.
Selain warna, setiap bagian dalam meukotop kubik memiliki empat bagian yang masing-masing memiliki arti. Bagian pertama mengandung arti hukum, bagian kedua mengandung arti adat, bagian ketiga mengandung arti kanun, dan bagian terakhir mengandung arti keempat yaitu reusam.
Pada umumnya motif tengkorak meukotop memiliki bentuk dan motif yang sama, yang membedakan adalah warna kain sonket yang membungkus tengkorak biasanya senada dengan warna kain sonket yang terdapat pada pakaian adat.
2. Pakaian adat pria Aceh
Dibawah ini adalah beberapa pakaian adat Aceh untuk pria yaitu :

Linto Baro merupakan salah satu pakaian adat Aceh yang dikenakan oleh pria dewasa. Pakaian ini biasa digunakan dalam beberapa upacara adat Aceh. Pada pesta pernikahan adat Aceh, pengantin pria mengenakan Linto baru. Sedangkan untuk mempelai wanita memakai Dara Baro.
Tak hanya upacara adat, Linto Baro juga digunakan dalam acara-acara kenegaraan. Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo, pernah memakainya (beserta lambang kepresidenan) saat memimpin upacara Detik-detik Proklamasi RI (Upacara Kemerdekaan RI ke-73) di Istana Negara Jakarta pada 17 Agustus 2018 Terlihat jelas budaya Islam mempengaruhi desain Linto Baro. Diperkirakan pakaian ini sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Perlak dan Samudra Pasai.
Linto Baro terdiri dari beberapa bagian: hiasan kepala, baju Meukesah dan celana Sileuweu, serta jangan lupa selipkan senjata tradisional Aceh, Siwah atau Rencong, di pinggang.
Gelang terbuat dari perak lapis emas. Terdiri dari rangkaian cincin kecil berbentuk rantai yang dihiasi ikan (dua) dan kunci. Di kedua ujung rantai ada kait angka delapan. Tali jam ini merupakan tambahan pada pakaian adat pria yang dikenakan di atas baju.
3. Pakaian adat wanita Aceh
Dibawah ini adalah beberapa pakaian adat wanita Aceh yaitu :
-
Daroo Baro

Daro Baro adalah brand baju pengantin di Aceh. Jika pakaian mempelai pria cenderung berwarna gelap maka berbeda dengan pakaian adat surrogate yang cenderung berwarna lebih terang.
Tetap menampilkan nuansa Islami, pilihan warna yang biasa digunakan untuk busana pengantin adalah merah, kuning, ungu atau hijau. Busana adat Aceh untuk mempelai wanita terdiri dari tali pundak, kaos kaki musang, hiasan kepala dan perhiasan lainnya.
-
Baju Kurung

Kurung yang berlengan panjang menjadi sorotan bagi wanita Aceh. Baju Kurung memiliki kerah dan motif bersulam benang emas yang menyerupai pakaian Cina.
Bicara soal bentuk, kemeja ini memanjang hingga ke pinggul menutupi semua lekuk dan bagian tubuh wanita.
Kurung merupakan hasil perpaduan budaya Arab, Tionghoa, dan Melayu yang ditunjukkan dari motif dan bentuknya.
-
Celana kotak-kotak musang

Celana musang atau biasa disebut celana siluweu adalah celana pakaian adat Aceh yang bisa dipakai oleh Linto Baro maupun Daro Baro.
Celana ini memiliki bungkus sarung tangan sebagai hiasan di sepanjang jahitannya. Celana ini terutama digunakan oleh wanita Aceh saat pertunjukan tari saman.
-
Keureusang (Kerongsang / Bros)

Keureusang (Kerongsang / Bros) adalah sebuah perhiasan yang memiliki panjang 10 cm dan lebar 7,5 cm. Perhiasan dada yang melekat pada pakaian wanita (sejenis bros) terbuat dari emas bertahtakan intan dan intan. Bentuk keseluruhannya seperti hati yang dihiasi 102 berlian dan intan. Keureusang ini digunakan sebagai jepitan (seperti peniti) di bagian dada. Perhiasan ini merupakan barang mewah dan hanya orang-orang tertentu saja yang memakainya sebagai perhiasan sehari-hari.
-
Patam Dhoe

Patam Dhoe adalah salah satu perhiasan dahi wanita dari Aceh. Biasanya terbuat dari emas atau perak yang dilapisi emas. Itu memiliki bentuk mahkota. Patam Dhoe terbuat dari perak berlapis emas. Terbagi menjadi tiga bagian yang saling berhubungan dengan engsel. Di tengah adalah kaligrafi dengan tulisan Allah, dan di tengah adalah tulisan Muhammad – motif ini disebut Bungong Kalimah – yang dikelilingi ukiran dengan titik-titik kecil dan bunga.
-
Menyimpan
Simlah adalah perhiasan dada wanita. Terbuat dari perak berlapis emas. Ini terdiri dari 24 pelat heksagonal dan dua pelat segi delapan. Setiap piring dihias dengan ukiran motif bunga dan daun, serta berlian merah di tengahnya. Panel-panel tersebut dihubungkan dengan dua untai rantai Simlah, yang memiliki panjang 51 cm dan lebar 51 cm.
-
Subang Aceh

Subang Aceh memiliki diameter 6 cm. Sepasang anting-anting emas dan permata. Berbentuk bunga matahari dengan kelopak runcing. Bagian atasnya berupa piring berbentuk bunga matahari yang disebut “Sigeudo Subang”. Subang ini juga disebut uro eye bungong.
4. Pakaian adat Aceh Gayo

Berikut ini adalah beberapa pakaian adat Aceh Gayo, yaitu sebagai berikut:
Untuk mengamankan majok, mempelai pria menggunakan Bkah Pengkah yang juga berfungsi sebagai tempat dandan.
Selain Bkah Pengkah, baju putih, celana panjang, beberapa gelang di tangan, cincin, balok, rantai genit, sarung dan ponok (sejenis keris)
Elemen lain yang digunakan adalah sanggul rambut ringan, peluru ringan yang digunakan selama penutupan akad nikah dan mudah diingat, digunakan sepuluh hari setelah berakhirnya akad nikah.
Bagi Ineun Mayok, busana mempelai wanita berupa kemeja, ikat pinggang pria, dan sarung. Mahkota dari janggut, cemara, roti ringan, alang-alang, alang-alang, obat tetes telinga, dan anting-anting polos digunakan untuk perhiasan, semuanya digunakan sebagai hiasan kepala.
Untuk leher, tergantung tanggal kalungnya, apakah perak atau perak dengan manik-manik perak dan manik-manik perak, dan belgong (sejenis manik-manik).
Untuk kedua tangan hingga ujung jari dihiasi dengan berbagai jenis gelang, seperti topeng, gelang giok, gelang jepit, gelang peluru, gelang penutup dan gelang, serta berbagai jenis detail seperti sabuk hitam kejang, pecah, pentil sensims, sensims kulit, sensasi memutar dan sensasi spontan.
Tidak hanya sabuk di bagian pinggang, tetapi juga rantai pergelangan kaki genit untuk digunakan sebagai gelang kaki.
Selendang uluh-ulen yang kebanyakan berukuran lebar menjadi elemen fashion yang tak kalah pentingnya.
Bibliografi:
- Munir Ihsan Budaya Aceh yang Gendut, Diterbitkan oleh PT. Tugu Muda Indonesia, Semarang, 1990.
- Ahmad Gani, Haba Ureung AcehDiterbitkan oleh Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, 1980.
- Husein Husnan, Pembahasan tentang adat dan budayaDiterbitkan oleh Al-Husna, Solo, 1995.
Demikian penjelasan IPS-sejarah HAI 15 Pakaian adat Aceh modern, pria, wanita dan gayo
Semoga materi hari ini bermanfaat bagi para siswa, terima kasih!!!
Baca artikel lainnya:
- rumah adat Aceh
- Tarian Adat Aceh
- Tari Saman
- senjata tradisional Aceh
- Alat musik tradisional Aceh
