Assalammualaikum, selamat datang kelas IPS. Disini guru akan membahas pelajaran sejarah yaitu Hai”Orang Riau angkat senjata“. Berikut penjelasannya di bawah ini:

Rakyat-Riau-Angkat-Lengan

Contents

Latar Belakang Masyarakat Riau angkat senjata

Pada zaman penjajahan Belanda, kongsi dagang disebut Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC). Kemitraan dagang yang memonopoli perdagangan dan produksi di Nusantara, dibalik itu bangsa Indonesia tidak terima dengan keserakahan VOC, sehingga terjadi perang dimana-mana. Salah satunya adalah masyarakat Riau, mereka tidak terima dengan monopoli yang diberlakukan oleh Belanda, sehingga mereka melakukan gencatan senjata yang sering disebut “rakyat Riau angkat senjata”.

Oleh karena itu, untuk lebih jauh membahas akyat riau yang angkat senjata, kami telah menghasilkan makalah yang berjudul “Sejarah Orang Riau yang angkat senjata”.


Perlawanan rakyat Riau angkat senjata

VOC terus mengejar ambisinya untuk mendirikan monopoli perdagangan dan menguasai berbagai wilayah di Nusantara. Selain menguasai Malaka, VOC juga mulai mengincar Kepulauan Riau. Dengan kebijakan partisi tersebut, VOC mulai berhasil menanamkan pengaruhnya di Riau. Kerajaan-kerajaan kecil seperti Siak, Indragiri, Rokan dan Kampar semakin mendapat tekanan dari monopoli paksa dan tindakan VOC yang sewenang-wenang. Karena itu, beberapa kerajaan mulai melawan.

Salah satu contoh perlawanan di Riau adalah perlawanan yang dimulai oleh Kerajaan Siak Sri Indrapura. Raja Siak Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (1723-1744) memimpin rakyatnya berperang melawan VOC. Setelah berhasil merebut Johor, ia membangun benteng di Pulau Bintan. Dari pertahanan di Pulau Bintan inilah pasukan Sultan Abdul Jalil mengirimkan pasukan di bawah pimpinan Raja Lel Muda untuk menyerang Malaka.

Uniknya, dalam perjuangan ini, Raja Lela Muda selalu mengikutsertakan putranya, Raja Indra Pahlawan. Itulah sebabnya Raja Indra Pahlawan sejak remaja sudah mampu berperang. Sifat bela negara/tanah air mulai ditanamkan pada diri Raja Indra Pahlawan.

Dalam suasana konflik dengan VOC inilah, Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah meninggal dunia. Sebaliknya, putranya bernama Muhammad Abdul Jalil Muzafar Syah (1746-1760). Raja ini juga memiliki insting seperti ayahnya yang selalu ingin melawan VOC di Malaka dan sebagai panglima perang dia adalah Raja Indra Pahlawan. Pada tahun 1751 pecah perang melawan VOC.


Strategi Perlawanan Rakyat Riau Angkat Senjata

Sebagai strategi menghadapi serangan Raja Siak, VOC berusaha memutus jalur perdagangan ke Siak. VOC membangun benteng di sepanjang jalur yang menghubungkan Sungai Indragiri, Kampar, dengan Pulau Guntung yang terletak di muara Sungai Siak. VOC menahan kapal dagang untuk Siak. Ini pukulan telak bagi Siak. Oleh karena itu, kekuatan yang lebih besar segera siap menyerang VOC. Sebagai pucuk pimpinan pasukan dipercayakan kepada Raja Indra dan Panglima Tengku Muhammad Ali. Serangan ini diperkuat dengan kapal perang “Tiger Beast” yang dilengkapi dengan perlengkapan perang yang kurang ajar dan memadai. Terjadi pertempuran sengit di Pulau Guntung (1752 – 1753). Benteng VOC di Pulau Guntung ternyata bertingkat-tingkat dan dilengkapi dengan meriam-meriam berukuran besar.

Karena itu, pasukan Siak sulit menembus benteng tersebut. Namun banyak juga korban dari pihak VOC, sehingga pihak VOC harus mendatangkan bala bantuan, termasuk pihak Cina. Pertarungan itu berlangsung hampir sebulan. Sementara itu, VOC terus memberikan bantuan. Melihat keadaan tersebut, kedua panglima perang Siak tersebut memanggil pasukannya untuk mundur kembali ke Siak. Sultan Siak bersama para panglima dan penasehatnya menyepakati strategi baru. Disepakati bahwa VOC harus dilawan dengan tipu muslihat. Sultan diminta berpura-pura berdamai dengan memberikan hadiah kepada Belanda.

Oleh karena itu, strategi ini dikenal sebagai “strategi pemberian sultan”. VOC menyetujui seruan damai ini. Perundingan damai diadakan di sebuah loji di Pulau Guntung. Pada saat perundingan baru dimulai, Sultan Siak terpaksa tunduk kepada pemerintah VOC. Sultan segera memberikan kode kepada anak buahnya dan langsung menyergap dan membunuh Belanda di loji.

Loji langsung dibakar, dan rombongan Sultan Siak kembali ke Siak dengan kemenangan, meski gagal menyingkirkan VOC dari Malaka. Strategi perang ini tidak terlepas dari jasa Raja Indra Pahlawan. Oleh karena itu, atas jasa-jasanya, Raja Indra Pahlawan diangkat menjadi Panglima Kesultanan Siak dengan gelar: “Panglima Perang Raja Indra Pahlawan Datuk Lima Puluh”.


Berakhirnya Perlawanan Rakyat di Riau Angkat Senjata

Peperangan antara rakyat Riau dengan VOC sangat sengit, pada saat perang VOC membawa bantuan dari Cina dan sekutunya, maka rakyat Riau mundur untuk merundingkan strategi perang yang baru, maka dalam perundingan tersebut muncul ide diperoleh dengan berpura-pura mengajak VOC berdamai.

Maka dalam perundingan damai dengan VOC, rakyat Riau sempat menghajar para petinggi VOC. Pada akhirnya rakyat Riau menang dari VOC. Meski gagal menyingkirkan VOC dari Malaka.


Para pemimpin rakyat Riau angkat senjata

Berikut beberapa tokoh masyarakat Riau yang angkat senjata yaitu :


1. Sultan Muhammad Abdul Jalil Muzafar Syah

Sultan Muhammad Abdul Jalil Muzafar Syah

  1. Pada tahun 1751, dia pecah lagi melawan VOC setelah kematian ayahnya
  2. VOC memutus jalur perdagangan ke Siak
  3. VOC membangun benteng pertahanan di sepanjang Sungai Indragiri, Kampar, hingga Pulau Guntung yang terletak di muara Sungai Siak
  4. Pertempuran pamungkas terjadi di Pulau Guntung (1752 – 1753), yang diperkuat oleh kapal perang “Tiger Beast”. Pertarungan itu berlangsung sebulan. Banyak korban jatuh di kedua sisi.
  5. Sultan diminta berpura-pura berdamai dengan VOC yang dikenal dengan “Strategi Pemberian Sultan” yang berlangsung di Loya, Pulau Guntung
  6. Dalam perundingan tersebut Sultan terpaksa tunduk kepada VOC. Sultan memberikan kode kepada anak buahnya dalam penyergapan. Loji dibakar, dan sultan kembali ke Siak dengan kemenangan
  7. Strategi perang ini tidak lepas dari jasa Raja Indra Pahlawan. Atas jasa-jasanya, Raja Indra Pahlwan diangkat menjadi Panglima Kesultanan Siak dengan gelar “Panglima Perang Raja Indra Pahlawan Datuk Lima Puluh”.

2. Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah

Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah

  1. Ia berhasil merebut Johor dan kemudian membangun benteng pertahanan di Pulau Bintan
  2. Dia mengirim pasukan di bawah komando Raja Lela Muda untuk menyerang Malaka bersama putranya Raja Indra Pahlawan.
  3. Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah wafat dalam suasana panas dan digantikan oleh putranya yaitu Muhammad Abdul Jalil Muzafar Syah (1746 – 1760) dengan panglima perang Raja Indra Pahlawan

Demikian penjelasan IPS-sejarah HAI Rakyat Riau Angkat Senjata: Latar Belakang, Perlawanan, Strategi, Akhir, dan Angka

Semoga materi hari ini bermanfaat bagi para siswa, terima kasih!!!


Baca artikel lainnya:

Web Seputar Pengetahuan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *