Assalammualaikum, selamat datang kelas IPS. Disini guru akan membahas pelajaran sejarah yaitu Hai”Prasasti Warisan Kerajaan Mataram kuno“. Berikut penjelasannya di bawah ini:

Prasasti Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Mengetahui perkembangan Kerajaan Mataram Kuno dapat digunakan sumber berupa prasasti. Terdapat beberapa prasasti yang berkaitan dengan kerajaan Mataram kuno antara lain prasasti Canggala, prasasti Kalasan, prasasti Klura, prasasti Kedu atau prasastibalitung. Selain prasasti tersebut, sumber sejarah kerajaan kuno Mataram juga berasal dari catatan Cina.


Contents

Prasasti Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Prasasti ditulis dalam karakter Palava dan dalam bahasa Sanskerta. Di bawah ini adalah 11 prasasti peninggalan kerajaan kuno Mataram, antara lain:


1. Prasasti Sojomerto

Prasasti Sojomerto

Prasasti Sojomerto merupakan peninggalan Dinasti Sailendra yang pertama kali ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Provinsi Batang, Provinsi Jawa Tengah. Prasasti ini ditulis dalam aksara Melayu Kuno dan Kawi. Prasasti Sojomerto sendiri merupakan siwais religius.


Prasasti ini memuat keluarga tokoh utama, Dapunta Selendra. Dapunta Selendra memiliki ayah bernama Santana, ibu bernama Bhadrawati dan istrinya bernama Sampula. Menurut Prof. dr. Boechari, ia meyakini bahwa tokoh bernama Dapunta Selendra merupakan cikal bakal keberadaan raja-raja keturunan dinasti Sailendra yang saat itu berkuasa di kerajaan Hindu Mataram.


Prasasti Sojomerto sendiri terbuat dari batu andesit yang memiliki panjang 43 cm, tebal 7 cm dan tinggi 78 cm.


2. Prasasti Mantyasih

Prasasti Mantyasih

Prasasti Mantyasih merupakan prasasti peninggalan kerajaan kuno Mataram. Prasasti ini memiliki nama lain seperti Prasasti Kedu Tembaga atau sering disebut dengan Prasasti Balitung. Prasasti ini pertama kali ditemukan di desa Mateseh, Magelang Utara, yang terletak di provinsi Jawa Tengah. Prasasti ini memberikan informasi tentang daftar silsilah raja-raja yang memerintah Kerajaan Mataram sebelum Raja Balitung.


Tujuan pembuatan prasasti ini adalah sebagai upaya untuk melegitimasi Balitung dengan menyebut raja-raja yang dahulu memerintah dan berdaulat penuh atas wilayah kerajaan Mataram Kuno. Selain itu, prasasti ini juga menyebutkan bahwa desa Mantyasih ditetapkan oleh Raja Balitung sebagai desa perdikan atau kawasan bebas pajak.


Berikut nama-nama raja Mataram Kuno yang disebutkan dalam Prasasti Mantyasih. Nama-nama raja tersebut antara lain:

  • Raja Sanjaya
  • Rakai Panangkaran
  • Rakai Panunggalan
  • Rakai Warak
  • Rakai Garung
  • Rakai Pikatan
  • Rakai Kayuwangi
  • Ratu Watuhumalanga
  • Rakai Watukura Dyah Balitung

3. Prasasti Gondosuli

Prasasti Gondosuli

Prasasti Gondosuli merupakan benda yang sangat bersejarah dan juga terkenal di Kabupaten Temanggung. Prasasti ini sekarang terletak di desa Gondosuli, Kecamatan Bulu, yang berjarak kurang lebih 13 km ke arah barat. Prasasti ini ditulis pada tahun 832 Masehi. Prasasti Gondosuli merupakan prasasti yang memuat informasi tentang betapa jayanya Dinasti Sanjaya, terutama pada masa pemerintahan rentetan kesalahan, yaitu raja kerajaan Mataram yang beragama Hindu.


Prasasti Gondosuli merupakan objek wisata sejarah yang dapat memberikan informasi yang sangat penting, terutama mengenai gambaran kehidupan sosial budaya masyarakat Temanggung pada zaman dahulu. Prasasti Gondosuli saat ini masih sangat terpelihara karena kelestariannya, oleh karena itu pada saat ini prasasti tersebut didirikan di atasnya dengan pagar besi dan beratap seng. Hal itu dilakukan dengan tujuan untuk menjaga keamanan dan perlindungan prasasti yang sangat bersejarah dari kerajaan Mataram kuno.


4. Prasasti Canggal

Prasasti Canggal

Prasasti Canggal disebut juga Prasasti Sanjaya atau Prasasti Gunung Wukir. Prasasti ini ditemukan di pelataran Candi Gunung Wukir di Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam Provinsi Jawa Tengah. Prasasti Canggal yang ditorehkan di atas batu menggunakan bahasa Sansekerta dalam aksara Pallawa. Prasasti ini dianggap sebagai proklamasi diri Raja Sanjaya pada tahun 732 M sebagai penguasa Kerajaan Mataram Kuno.


Prasasti Canggal memberikan informasi tentang pendirian Lingga, yaitu simbol Siwa, di desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya. Selain itu, prasasti ini memberikan informasi bahwa Sanna pertama kali menjadi raja, yang kemudian digantikan oleh Sanjaya, anak Sannaha yang merupakan saudara laki-laki Sanna.


5. Prasasti Kelurak

Prasasti Kelurak

Prasasti Kelurak merupakan prasasti peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang ditemukan di dekat Candi Lumbung, yaitu Desa Benar Utara, Kompleks Candi Prambanan di Provinsi Jawa Tengah. Prasasti Kelurak memberikan informasi tentang pendirian bangunan suci arca Manjusri atas perintah Raja Indra yang bergelar Sanggramadananjaya.


Berdasarkan kesaksian para ahli sejarah, yang dimaksud bangunan suci ini tak lain adalah Candi Sewu yang terletak di Kompleks Permandian Prambanan. Itu hanya sebagian data dari prasasti Kelurak, karena pengetahuan seluruh isi tidak mungkin lagi karena kondisi prasasti yang sudah rusak.


6. Prasasti Kalasan

Prasasti Kalasan

Prasasti peninggalan Kerajaan Mataram Kuno selanjutnya adalah Prasasti Kalasan. Prasasti ini merupakan peninggalan Dinasti Sanjaya. Prasasti Kalasan pertama kali ditemukan di kecamatan Kalasan, Sleman, Jogjakarta. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sansekerta dan menggunakan aksara Pranagari.


Prasasti ini memberikan informasi bahwa guru raja berhasil meyakinkan Maharaja Tejahpur Panangkaran yang merupakan harta keluarga Sailendra Vamsatilak atas permintaan keluarga Syailendra untuk membangun bangunan suci bagi Dewi Tara sekaligus vihara bagi para pendeta dan merupakan penghargaan desa terakhir Kalasan untuk Sangha adalah komunitas monastik dalam agama Buddha. Bangunan suci yang dimaksud dan yang akan dibangun adalah candi Kalasan. Saat ini prasasti ini disimpan di Museum Nasional di Jakarta.


7. Prasasti Shankara

Prasasti Shankara

Prasasti Shankara merupakan prasasti yang berasal dari abad ke-8 Masehi yang pertama kali ditemukan di Sragen, Jawa Tengah. Saat ini prasasti ini tidak diketahui keberadaannya karena telah hilang. Prasasti ini sebelumnya dipegang oleh museum Adam Malik, namun ketika bangkrut sekitar tahun 2005 atau 2006, prasasti tersebut dijual begitu saja. Prasasti Shankara berkisah tentang seorang tokoh bernama Raja Shankara yang berpindah agama karena agama Siwa yang dianutnya merupakan agama yang ditakuti banyak orang. Raja Shankara sendiri memeluk agama Buddha karena agama tersebut menyatakan bahwa agama Buddha adalah agama welas asih.


Selain itu, disebutkan juga bahwa ayah Raja Shankara meninggal karena sakit selama kurang lebih 8 hari.Karena itu Raja Shankara yang takut dengan guru yang tidak benar, Raja Shankara kemudian meninggalkan agama Siwa dan kemudian beralih ke Mahayana. . Buddhisme. Setelah itu, Raja Shankara menggeser pusat kerajaannya ke arah timur. Sebuah buku sejarah nasional Indonesia memberikan informasi bahwa Raja Shankara disamakan dengan sederet Panangkaran, sedangkan ayah dari Raja Sangkara sendiri yang tidak disebutkan namanya disamakan dengan Raja Sanjaya.


8. Prasasti Ngadoman

Prasasti Ngadoman

Prasasti legendaris peninggalan kerajaan Mataram kuno selanjutnya adalah prasasti Ngadoman, prasasti ini pertama kali ditemukan di desa Ngaduman dekat Salatiga di provinsi Jawa Tengah. Prasasti ini sangat penting karena dianggap sebagai perantara antara aksara Buddha dan aksara Kawi.


9. Prasasti Plumpungan

Prasasti Plumpungan

Prasasti Plumpungan disebut juga Prasasti Hamparan. Prasasti Plumpungan merupakan prasasti yang ditulis di atas batu jenis andesit besar yang berukuran panjang 170 cm, lebar 190 cm, dan keliling 5 meter. Prasasti ini pertama kali ditemukan di Dusun Plumpungan, Desa Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo. Banyak orang yang percaya bahwa prasasti ini adalah asal usul kota Salatiga.


Prasasti Plumpungan ditulis dalam bahasa Sanskerta dan juga bahasa Jawa Kuno dimana aksara terukir pada petak persegi 4 dengan garis ganda. Berdasarkan sejarahnya, Prasasti Plumpungan memuat muatan yang berkaitan dengan penetapan hukum yaitu penetapan status tanah Perdikan untuk desa Hampra.


Menurut ahli sejarah, penulisan prasasti plumpungan dilakukan oleh seorang citralekha/juru tulis dan seorang pendeta/sertifikat. Raja Bhanu yang disebutkan dalam prasasti tersebut merupakan raja besar pada masanya, dimana raja tersebut sangat memperhatikan nasib dan kesejahteraan rakyatnya.


10. Prasasti Kayumwungan

Prasasti Kayumwangan

Prasasti ini disebut Prasasti Kayumwungan. Prasasti ini merupakan prasasti pada 5 tiang batu yang ditemukan di Dusun Karang Tengah, Kabupaten Temanggung di Provinsi Jawa Tengah. Prasasti Kayumwungan kini lebih dikenal dengan nama Prasasti Karang Tengah.


Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sanskerta, di dalamnya berisi tentang seorang raja bernama Samaratunga yang putranya Pramodhawardhani membangun bangunan suci di nalaya dan sebuah bangunan bernama Wenuwana yang berarti hutan bambu. Wenuwena dibangun dengan tujuan sebagai tempat penyimpanan abu kremasi seorang mega raja (sebagai Dewa Indra).


11. Prasasti Siwagrha

prasasti Siwagrha

Prasasti yang terakhir ini adalah prasasti Siwagrha, dimana prasasti ini dikeluarkan oleh Rakai Kayuwangi pada masa setelah berakhirnya pemerintahan Rakai Pikatan. Prasasti ini memberikan informasi tentang kelompok Candi Agung yang didedikasikan untuk Dewa Siwa yang disebut Shivagrha (Sanskerta), artinya Rumah Siwa, yang ciri-cirinya cocok dengan kelompok candi Prambanan. Saat ini prasasti tersebut disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta.


Demikian penjelasan IPS-sejarah HAI 11 Prasasti Kerajaan Mataram Kuno dan Tokohnya

Semoga materi hari ini bermanfaat bagi para siswa, terima kasih!!!


Baca artikel lainnya:

Web Seputar Pengetahuan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *