Assalammualaikum, selamat datang kelas IPS. Disini guru akan membahas pelajaran Geografi yaitu Hai”Bijih logam dan bijih besi“. Berikut penjelasannya di bawah ini:

Perbedaan-Bijih Logam dan Bijih Besi

Sumber daya alam yang berasal dari dalam bumi, untuk mendapatkannya memerlukan proses yang dilakukan dengan menggunakan teknik penambangan. Tidak semua hasil tambang diperoleh dalam bentuk logam, bahkan beberapa hasil tambang termasuk dalam kelompok bukan logam. Hasil tambang ini dikenal sebagai bijih. Bijih sendiri merupakan batuan yang mengandung berbagai mineral penting dan untuk mendapatkan bagian-bagian mineral tersebut, bijih tersebut harus melalui tahap pemurnian guna memperoleh nilai ekonomis yang tinggi.

Kandungan dalam bijih yang diperoleh dari proses penambangan juga dominan dalam biaya penambangan bijih itu sendiri. Untuk itu perlu diketahui terlebih dahulu kandungan mineral dalam bijih tersebut dan diteliti mineral mana yang memiliki nilai ekonomis besar dan mana yang tidak menguntungkan. Kita mungkin sering mendengar istilah bijih logam dan bijih besi. Jadi apa perbedaan antara kedua bijih ini dan bagaimana cara mendapatkannya? Berikut ini adalah perbedaan antara bijih logam dan bijih besi:


Contents

bijih logam

Bijih logam merupakan salah satu hasil tambang yang seringkali masih berupa butiran atau bongkahan. Bijih logam yang ditambang masih bercampur dengan bahan atau mineral lain. Jumlah atau persentase berat komponen mineral yang terkandung dalam bijih logam tergantung pada kedalaman lapisan tanah tempat bijih ditambang. Pada umumnya bijih logam mengandung senyawa berupa oksida, silikat, sulfida, atau logam murni seperti tembaga dan logam mulia (emas). Bijih logam terlebih dahulu harus dikonversi untuk mengekstraksi berbagai unsur logam yang ada di dalamnya dan memisahkannya dari bagian yang tidak berguna. Bijih logam itu sendiri muncul dari proses geologis yang dikenal dengan ore genesis atau formasi bijih.

Proses pembentukan bijih logam merupakan yang paling kompleks, bahkan proses pembentukannya seringkali melibatkan lebih dari satu proses. Jadi walaupun berasal dari satu jenis bijih akan menghasilkan jenis endapan yang berbeda – beda nantinya. Penggolongan bijih logam menurut proses pembentukannya dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:

  • Bijih primer atau hipogen adalah bijih yang mengalami proses presipitasi selama proses metalisasi.
  • Bijih sekunder atau supergen adalah bijih logam yang diendapkan sebagai hasil proses alterasi dari bijih primer. Biasanya terjadi melalui proses pelapukan dari air permukaan yang masuk ke dalam tanah.

Proses ekstraksi bijih logam berlangsung dalam berbagai tahapan, antara lain:

  • Pengeboran, yang dilakukan pada jarak 25 – 50 meter untuk mengambil sampel batuan dan tanah untuk mengetahui kandungan logam di area tersebut.
  • Pembersihan dan penggalian, dalam hal ini lapisan tanah penutup setebal 10-20 meter ditimbun pada lokasi tertentu atau dapat digunakan untuk menutupi bekas penambangan.
  • Ketika lapisan tanah yang mengandung bijih logam tercapai dengan penggalian, lapisan tersebut dikumpulkan hingga ketebalan 5-10 meter dan kemudian dibawa ke stasiun penyaringan.
  • Pemisahan, pada tahap ini bijih logam dipisahkan dengan cara disaring menurut ukurannya. Dari sini akan terbagi menjadi bijih tipe timur (-6 inci) dan bijih tipe barat (-2 atau -4 inci).
  • Penyimpanan Bijih yang telah mengalami pemisahan kemudian disimpan di tempat untuk mengurangi kadar air secara alami.
  • Penghijauan dalam hal ini dilakukan pada lahan bekas tambang. Metode yang digunakan adalah surface mining, yaitu material yang berasal dari bukaan baru diangkut kemudian ditempatkan di area penambangan. Tahap selanjutnya adalah lansekap, pelapisan tanah lapisan atas, pengelolaan saluran dan finishing dengan penanaman kembali atau reboisasi.

Bijih besi

Bijih besi yang diperoleh dari penambangan terdiri dari oksigen dan atom besi yang terikat bersama dalam sebuah molekul. Bijih besi yang diperoleh sering berupa hematit (Fe2O3), magnetit (Fe3O4), goetit (FeO(OH)), siderit (Fe3O4) atau limonit (FeO(OH)n(H2O). berupa hematit dan magnetit sekitar 60%, tidak mengherankan jika kedua bijih ini dikenal sebagai bijih alami atau bijih ekspedisi langsung, dengan kata lain kedua bijih tersebut dapat dikonversi ke langkah selanjutnya yaitu membuat besi tanur sembur. Bijih besi banyak mengandung oksida besi dengan berbagai warna seperti merah berkarat, ungu tua, kuning muda hingga abu-abu.Bijih besi merupakan sumber daya alam yang ketersediaannya di alam cukup melimpah.Indonesia merupakan daerah penghasil bijih besi terbesar, karena banyak dijumpai tambang bijih besi di hampir setiap pulau.

Bijih besi banyak digunakan sebagai bahan baku produksi baja dengan kandungan bijih besi sekitar 98%. Bijih besi sendiri secara umum terbagi menjadi dua jenis, yaitu:


  • Besi primer (endapan bijih)

Proses pembentukan bijih besi paling erat kaitannya dengan peristiwa tektonik sebelum mineralisasi. Adanya aktivitas tektonik membentuk struktur sesar yang merupakan zona lemah dan besar, dapat terjadi magmatisme yaitu intrusi magma yang menerobos batuan tua. Dari proses magmatisme ini muncul proses alterasi, mineralisasi, rekristalisasi dan penggantian oleh unsur-unsur magma.

Perubahan tersebut disebabkan oleh adanya panas dan material cair yang berasal dari aktivitas magma itu sendiri. Magma yang menembus batuan dirasakan dengan membekukan dan mengalami kontak metamorf. Kontak metamorf juga terkadang melibatkan batuan yang mengapit hingga menjadi fluida seperti batuan beku dan fluida metamorf yang kaya akan kandungan bijih besi.


  • Besi sekunder (deposit)

Besi sekunder ini merupakan endapan mineral allochthonous yang terbentuk dari sekelompok mineral berat melalui proses sedimentasi. Secara alami merasakan pemisahan karena gravitasi dan membantunya bergerak melalui media cair, gas atau padat. Tingkat densitas fokus mineral berat bergantung pada tingkat kemandirian sumber, berat jenis, stabilitas kimiawi, mekanisme dan durasi pelapukan.

Ternyata untuk mencapai kadar besi di atas 60-65% dapat dicapai dengan beberapa tahapan, yaitu:


  • Proses penghancuran / penghancuran

Bahan baku yang masih berupa batu atau pasir dihaluskan hingga ukuran mesh 10.


Bijih besi yang tidak terlalu halus digerus lagi agar butiran halus bijih besi lebih banyak dan terpisah dari pengotor atau mineral lain yang tercampur di dalamnya. Pada proses ini ukuran bijih besi mencapai 120 mesh.


  • Pemisah / pemisah magnetik

Pemisahan antara logam dan non logam dilakukan dengan pencucian dengan air dalam mesin berbentuk silinder yang dilapisi magnet, sehingga bahan yang mengandung besi melekat.


Proses penyangraian ini hanya berlaku untuk bijih besi yang mengandung hematit (Fe2O3) yang nantinya akan berubah menjadi magnetit (Fe3O4) dengan kekuatan magnet tinggi dan kandungan Fe hingga 65%.


Mengurangi kadar air bahan dengan memasukkan bahan ke dalam silinder yang berputar berlawanan arah sambil dihembuskan gas panas dari burner pada suhu 200 – 300 derajat Celcius.


Bijih besi dicampur dengan batu bara dan bahan pengikat bentonit sehingga konsentrat oksida besi menjadi halus hingga akhirnya terbentuk gumpalan yang dapat didistribusikan sesuai kebutuhan.


Tahapan ini merupakan pemurnian kandungan oksida besi menjadi besi murni dengan cara reduksi eksternal dengan gas alam (CO) dan reduksi internal dengan batubara.


Hasil palet tadi yang masih berupa pelet hijau, ditaruh di perapian untuk diberi larutan kapur, gas CO sebagai reduksi ekstra pada suhu tertentu hingga mencair. Setelah meleleh, bahan yang mengandung besi dan pengotornya akan terpisah. Bahan yang mengandung besi akan muncul dan tercetak sesuai kebutuhan, dan kandungan Fe sekitar 95%.


Demikian penjelasan IPS-Geografi HAI Perbedaan antara bijih logam dan bijih besi serta penjelasannya

Semoga materi hari ini bermanfaat bagi para siswa, terima kasih!!!


Baca juga :

Web Seputar Pengetahuan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *