Assalammualaikum, selamat datang kelas IPS. Disini guru akan membahas pelajaran Geografi yaitu Hai”Pembentukan mineral“. Berikut penjelasannya di bawah ini:

Proses-pembentukan-mineral

Kita harus tahu bahwa mineral adalah hasil akhir dari proses alam yang paling kompleks. Setiap mineral memiliki karakteristik, asosiasi dan setting geologi yang berbeda sehingga kita dapat mengetahui dimana dan bagaimana mineral tersebut terbentuk. Pada tahap reaksi, proses pembentukan atau kristalisasi mineral dipecah menjadi:

  • Nukleasi, atau pembentukan inti mineral dimana inti dapat berubah ukuran menjadi besar dalam proses pertumbuhan. Inti ini menjadi besar sebagai akibat dari kelompok penyusun mineral yang terikat bersama.
  • Pertumbuhan dan perluasan, proses ini dapat terjadi jika situasinya menguntungkan. Pertumbuhan diri terbuka dari peningkatan lapisan secara bertahap, berkembang perlahan hingga tercapai situasi yang stabil.

Ada banyak spesies di alam keberadaan mineral. Secara umum, mineral dibagi menjadi dua, yaitu mineral logam dan mineral non logam. Dua jenis logam terbentuk sebagai hasil dari proses mineralisasi yang berasal dari batuan beku, mineral cadangan lainnya dan proses pertukaran, yaitu mineral yang berasal dari mineral dan sudah ada karena alasan tertentu. Proses pembentukan mineral, baik secara alterasi maupun mineralisasi, tidak terlepas dari beberapa faktor. Efek ini berlawanan untuk setiap mineral. Proses pembentukan mineral menurut keterangan M. Bateman dipecah menjadi rangkaian proses produksi mineral tertentu.


Contents

Proses pembentukan mineral

Beberapa proses pembentukan mineral mengikuti, antara lain:


1. Proses magmatik

Sesuai dengan namanya, proses pembentukan mineral-mineral tersebut berlangsung di dapur magma primer sehingga mineral yang terbentuk akan memiliki sifat ultra-alkalin kemudian mengalami pendinginan dan pembekuan membentuk mineral bijih dan silikat. Mineral tersebut berada pada suhu tinggi, yakni berkisar sekitar 600 derajat Celcius, sehingga berhasil mengubah fase magmatik cair menjadi mineral berupa logam dan non logam. Proses pembentukan magmatik sendiri terbagi menjadi 2 macam, antara lain:

  • Magmatika awal, yaitu endapan yang terbentuk oleh proses magmatik langsung dan lebih dikenal dengan istilah ortomagmatik, dimana hingga 90% magma mengkristal dalam proses ini. Khusus untuk mineral bijih sering berasosiasi dengan batuan beku ultrabasa dan alkali plutonik. Format endapan dibagi menjadi 3 teknik yaitu teknik injeksi, diseminata dan segregasi.
  • Batuan beku akhir, mineral ini berasal dari kristal yang terbentuk dari batuan silikat dan berasal dari kesetimbangan magma yang paling kompleks serta memiliki pola dengan banyak variasi. Sifat mineral magma akhir ini adalah mobilitas yang tinggi. Pada magmatik akhir terdapat istilah ore trap yang terjadi setelah batuan silikat dipecah dan bereaksi dan evolusi ini disebut alterasi deuterik. Perangkap bijih beku akhir yang bergabung dengan batuan induk menghasilkan berbagai jenis proses diferensiasi dan jatuh ke dalam banyak kelompok, yaitu injeksi fluida residu, segregasi fluida residual, injeksi fluida tak bercampur, dan segregasi fluida tak bercampur.

2. Proses pegmatisme

Proses pembentukan mineral selanjutnya adalah tahap pegmatisme. Pada proses ini, larutan magma yang terdiri dari cairan dan gas memiliki suhu 450oC – 600oC. Pada fase ini juga terdapat kelompok batuan berupa batuan granit.


3. Proses pneumatolisis

Pada tahap ini suhu mineral mulai menurun, yaitu sekitar 450oC – 550oC, kemudian terjadi akumulasi gas hingga terbentuk jebakan pneumatolisis yang menghasilkan keseimbangan magma dalam bentuk cair saja. Ada volatil yang bergerak melalui batuan beku dan batuan sekitarnya, hingga akhirnya dibuat menjadi mineral melalui proses volatilisasi atau sublimasi dari batuan yang diterobos. Hasil dari kedua proses tersebut adalah endapan mineral yang disebut mineral pneumatolith.


4. Proses hidrotermal

Proses hidrotermal adalah proses pembentukan mineral akibat pengaruh suhu dan tekanan terendah serta adanya larutan magma yang terbentuk sebelumnya. Bentuk endapan mineral dapat ditemukan sebagai unsur proses pengendapan hidrotermal yang disebut pengisian rongga. Cavity filling sendiri merupakan proses mineralisasi dengan mengisi ruang-ruang kosong pada batuan dan terdiri dari mineral-mineral yang terendapkan dari larutan bukaan batuan.


5. Proses penggantian

Proses ini disebut juga dengan proses metasomatic replacement, yaitu proses pembentukan endapan yang terbentuk dari mineral epigenetik yang didominasi oleh pembentukan endapan hipotermal dan mesotermal, dimana proses ini bersifat urgent pada himpunan epitermal. Pada endapan metasomatik terdapat mineral bijih yang terbentuk dan dikuasai oleh penampang sulfida dan mendominasi susunan unsur-unsur endapan mineral tersebut.


Proses sedimentasi

Proses ini menghasilkan endapan yang berasal dari proses pengendapan sejumlah mineral yang telah mengalami pelapukan batuan sebelumnya. Hingga akhirnya berkumpul dan menetap di satu tempat.


7. Proses penguapan

Proses evaporasi merupakan proses pembentukan mineral yang ada di daerah kering dan panas, sehingga tidak heran jika proses evaporasi sering terjadi di daerah ini. Akibatnya, mineral terlarut di dalam air akan tetap ada saat terjadi penguapan.


8. Konsentrasi residu mekanis

Pada fase ini terdapat sisa endapan yang merupakan hasil dari proses pelapukan dan pengendapan yang terjadi di lokasi yang sama. Sehingga dapat dikatakan sedimen tidak mengalami pergerakan oleh media seperti air atau angin. Proses keausan itu sendiri dapat berlangsung secara kimiawi dan fisik.


9. Proses oksidasi dan pengayaan supergen

Bijih mineral yang terdapat di sekitar permukaan bumi akan mengalami pelapukan yang disebabkan oleh rembesan udara atau air. Akibatnya terjadi pelapukan hingga batuan tersebut larut dimana batuan tersebut membentuk suatu padatan masif yang menjadi keropos kembali disebut gossam. Ada mineral primer yang mengalami oksidasi hingga ke permukaan air atau zona oksidasi. Di zona oksidasi, terdapat akumulasi mineral oksida limonit sekunder yang memiliki karakteristik khusus. Selanjutnya, pelarutan garam dan asam sulfat terjadi di zona sulfida atau daerah di bawah air tanah, di daerah ini juga terbentuk mineral-mineral sekunder.


10. Proses metamorfosis

Pada proses ini, batuan metamorf terbentuk dari mineral batuan beku, mineral batuan metamorf dan mineral batuan sedimen. Dalam proses metamorfisme ini terjadi evolusi dari suatu mineral menjadi mineral baru atau menghasilkan mineral yang sama tetapi dengan sifat yang berlawanan karena menyesuaikan dengan kondisi lingkungan yang baru. Contoh evolusi mineral lama menjadi mineral baru adalah mineral homblende menjadi mineral serpentin, sedangkan evolusi mineral lama menjadi mineral sama dengan sifat yang berlawanan yaitu mineral kalsit kembali menjadi mineral kalsit, tetapi dengan sifat yang berbeda.


Demikian penjelasan IPS-Geografi HAI Berikut 10 proses pembentukan mineral dan penjelasannya

Semoga materi hari ini bermanfaat bagi para siswa, terima kasih!!!


Baca juga :

Web Seputar Pengetahuan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *