Kita sadar terkadang kalau ada hari kartini, 21 April, ketika melihat entah itu pelajar, pekerja, menggunakan kebaya. Ketika turun dari LRT, di stasiun, tampak pegawai dengan kebaya jalan mondar mandir. Nah, saya baru sadar ternyata hari Kartini.

Entah kenapa saat di LRT banyak sekali wanita pekerja, kebanyakan wanita muda. Sementara yang berusia tua kebanyakan laki-laki. Tenaga kerja wanita merupakan aset potensial negara kita. Kesetaraan sudah tidak asing lagi. Begitu juga kalau saya lihat di Bus transjakarta, banyak juga yang wanita, atau setidaknya tidak jauh berbeda jumlahnya. Yang belum saya ketahui adalah Kereta Rel Listrik (KRL), karena belum pernah mencoba. Justru yang Mass Rapid Transit (MRT) malah pernah mencoba, walau hanya beberapa menit karena hanya 2 stasiun saja, dari dukuh atas ke bundaran HI.

Tanggal 27 April, merupakan hari berkabung karena satu gerbong wanita KRL ditabrak kereta Argo Bromo dengan kecepatan tinggi. Hal ini terjadi karena sebelumnya taksi listrik Vietnam yang melewati rel, mogok, dan rodanya terkunci. Sulit bergerak karena karakteristik kendaraan listrik seperti itu. Sekitar 14 wanita meninggal, sehingga menimbulkan duka bagi keluarga yang ditinggalkan oleh saudari, ibu, anak, yang sedang bekerja mencari nafkah atau aktivitas lainnya.

Memang sulit menghindari perlintasan kereta. Beberapa sudah dibuat flyover dan underpass, namun tidak sedikit yang bahkan masih tidak memiliki papan peringatan, hanya mengandalkan ‘Pak Ogah’ yang berjaga.

Di dekat lokasi kejadian, dulu, saya sempat gembira melihat adanya proyek pembangunan. Saya kira ini akan berupa flyover yang akan mengatasi perlintasan kereta api. Namun, sangat disayangkan, ternyata itu adalah underpass khusus untuk bus dan kendaraan sejenis, dan bukan ditujukan untuk menghindari perlintasan kereta.

Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan infrastruktur untuk angkutan publik utama, terutama yang mengangkut banyak orang. Hal ini tidak hanya krusial untuk keselamatan, tetapi juga dapat mengurangi kemacetan.

Sekali lagi, selamat jalan bagi para korban, dan semoga mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT, amiin.

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *