Assalammualaikum, selamat datang kelas IPS. Disini guru akan membahas pelajaran sejarah yaitu Hai”Pura Peninggalan Kerajaan Singasari“. Berikut penjelasannya di bawah ini:

Kesuksesan Kerajaan Singapura tentunya meninggalkan sejarah dan peninggalan yang pernah ada di kerajaan Singasari. Dengan pergi Peninggalan Kerajaan Singasari, kerajaan tersebut menjadikannya pemerintahan tersukses di nusantara. Materi kali ini akan membahas tentang candi peninggalan beliau.
Contents
Pura Peninggalan Kerajaan Singasari
Di bawah ini adalah 6 (enam) candi peninggalan kerajaan Singasari, yaitu:
-
Kuil Iago

Candi Jago terletak di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kabupaten Tumpang, Kabupaten Malang. Sekitar 22 km dari pusat kota Malang ke arah timur. Pura ini terletak di pemukiman penduduk, 200 meter dari tumpang Jalan Raya di sebelah timur.
Nama candi Jago ini adalah ‘Jajaghu’, yang tercatat dalam dua kitab kuno, Pararaton dan sastra kuno Nagarakertagama. Nama Jajaghu adalah nama tempat suci yang berarti “kebesaran”.
Candi ini dibangun untuk mengenang Raja Wisnuwardhana yang merupakan raja ke-4 Singosari. 1268 M Dapat disimpulkan bahwa Candi Jago merupakan candi peninggalan kerajaan Singosari.
Candi Jago memiliki bentuk yang unik dibandingkan dengan candi lainnya. Bagian dasar candi terdiri dari tiga tingkat. Tingkat pertama memiliki delapan tingkat. Ada empat belas level di level kedua dan tujuh level di level ketiga. Tangganya seperti “Pound Terrace” di era “Megalith”. Tinggi candi batu Andesit ini sekarang mencapai 10,5 meter, karena banyak bagian candi yang hilang dan runtuh.
Bangunan bersejarah seperti ini layak untuk dikunjungi dan dirawat. Karena bangunan ini merupakan warisan budaya yang kita miliki. Namun, ternyata banyak arca yang hilang, seperti arca Bhairawa yang dicuri pada tahun 2001.
-
Candi Kidal

Kemudian kita bisa pergi ke candi Kidal. Masih di atas. Candi Kidal terletak di desa Kidalrejo. Nama Kidal sendiri disebutkan dalam kitab Pararaton sebagai hadiah dari Raja Anusapati.
Menurut kamus Jawa kuno, nama “Lefty” berarti “kiri” dan istilah berarti “selatan” dari kata “selatan”. Namun dapat ditunjukkan bahwa candi tersebut terletak di sebelah selatan (tenggara) kerajaan Singosari yang terletak di sebelah utara.
Candi yang selesai dibangun pada tahun 1260 ini memiliki struktur berundak yang terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: Alas (Upapitha), yang disebut Bhurloka dan menggambarkan alam atau dunia manusia. Bagian tubuh (vimana) disebut Bwahloka dan menggambarkan alam antara atau di langit. Bagian atas (Cikhara) disebut Svahloka dan mewakili daerah surgawi atau dewa.
-
Candi Songgoriti

Hanya sedikit orang yang tahu tentang candi ini. Karena pengunjung lebih tertarik dengan Taman Songgoriti dan pemandian air panasnya. Objek wisata yang sangat menarik. Selain itu, tempatnya yang berada di dataran tinggi memungkinkan udara dingin menembus sela-sela pori-pori kulit.
Padahal pura ini terletak di tempat wisata pemandian air panas. Nama candi ini adalah Candi Supo, yang dibangun Mpu Supo atas perintah Raja Sindok sebagai tempat peristirahatan keluarga Raja di pegunungan dekat mata air. Situs ini terletak di lereng selatan Gunung Arjuna dan di lereng utara Gunung Kawi. Secara administratif terletak di Desa Songgokerto, Kota Batu, sekitar 3 km dari Alun-alun Kota Batu.
Artinya, mata air di pura ini awalnya hanyalah sebuah bukit air yang dingin dan dingin, karena sering digunakan untuk mencuci peninggalan dengan kekuatan magis yang besar, sehingga mata air tersebut menjadi panas sekarang.
Di candi inilah Ken Arok bertemu dengan Ken Dedes dan Ken Arok jatuh cinta pada Ken Dedes. Namun, Ken Dedes tetap menjadi istri Tunggul Ametung, raja kerajaan Singosari. Kemudian disusul dengan tragedi berdarah seputar kematian sang raja yang tewas ditikam oleh Keris Mpu Gandring.
Kondisi candi sudah tidak utuh lagi, hanya bagian kaki dan badan candi saja yang masih utuh. Atapnya telah runtuh dimakan usia. Pengunjung bebas memasuki situs candi.
-
Candi Singosari

Candi Singosari adalah candi budaya Kerajaan Singosari. Candi ini terletak di Desa Candirejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Candi yang tingginya sekitar 15 meter ini menjadi tempat kunjungan raja terakhir Singasari, Raja Kertanegara. Pada tahun 1292, keraton diserang oleh pasukan gelang yang dipimpin oleh Jayakatwang.
Ada banyak cerita rakyat di bangunan bersejarah ini. Kisah kejayaan Kerajaan Singosar kala itu. Perpaduan agama Hindu dan Budha menjadi titik balik pembangunan candi ini. Hindu-Budha adalah agama yang dianut di kerajaan Singosari.
-
Candi Sumberawan

Di dekat lokasi candi Singosari terdapat sebuah candi yang diyakini sebagai peninggalan kerajaan Singosari. Sekitar 6 km atau sekitar lima sampai sepuluh menit dengan mobil. Dengan jalan yang sempit dan berkelok-kelok, terdapat sebuah candi yang berbentuk stupa. Candi Sumberawan secara administratif terletak di Desa Toyomarto di Kecamatan Singosari.
Dengan tinggi sekitar 5,23 meter, candi ini berada di ketinggian 650 meter di perbukitan Gunung Arjuna dan terbuat dari batu adesit. Pemandangan di sekitar candi ini terlihat sangat bagus karena terdapat sebuah danau dengan air yang jernih. Selain itu, pengunjung disuguhkan di bawah rindangnya hutan pinus yang tumbuh tinggi dan rimbun di dekatnya.
Menurut cerita petugas kebersihan, Candi Sumberawan merupakan tempat berlindung Raja Hayam Wuruk saat berburu atau berkunjung ke Singosari. Selain telaga, di sekitar pura juga terdapat mata air suci. Dengan kata lain, diyakini bahwa orang yang menggunakan air untuk membasuh wajahnya akan awet muda.
-
Candi Jawa

Candi ini terletak di tengah jalan utama antara Kabupaten Pandaan, Kabupaten Prigen dan Pringeurkan. Candi Jawi secara luas diyakini sebagai tempat pemujaan atau tempat pemujaan bagi umat Buddha, namun sebenarnya merupakan tempat pemujaan atau penyimpanan abu raja terakhir Singasari, Kertanegara. Sebagian abunya juga disimpan di candi Singhasari. Kedua candi tersebut terhubung dengan Candi Jago yang merupakan tempat pemujaan Raja Kertanegara.
Bibliografi:
- Poesponegoro & Notosusanto (eds.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia, Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka
- Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Ilmu Media
- RM Mangkudimedja. 1979. Serat Pararaton, Jilid 2. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Indonesia dan Daerah
- Slamet Muljana. 2005. Menuju puncak kejayaan (cetak ulang 1965). Yogyakarta: LKIS
- Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan tafsir sejarahnya. Jakarta: Bhratara Syukur, Abdul, Ensiklopedia Umum Untuk Pelajar, Jilid 9, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2005. Hal 110.
- Bullough, Nigel (14 Juli 1995). Jawa Timur Bersejarah: Tetap dalam batu. Jakarta: AD Line Communications. p. 116–117.
- Kitab Negarakartagama, Kitab Kidung (Kidung Harsa Wijaya & Serat Arok)
- Sejarah Nasional Indonesia. Kurikulum 1994 dilengkapi dengan GBPP 1999.
Demikian penjelasan IPS-sejarah HAI 6 Candi Peninggalan Kerajaan Singasari, Penjelasan dan Gambarnya
Semoga materi hari ini bermanfaat bagi para siswa, terima kasih!!!
Baca artikel lainnya:
