Berdasarkan isi naskah cerita Parahyangan disitu dijelaskan asal usul Ratu Shima dan kaitannya dengan kerajaan Galuh. Keberadaan kerajaan Kalingga juga berkaitan dengan kerajaan Sunda, Mataram Kuno dan Sriwijaya.

Berdasarkan sumber lain mengenai kerajaan ini, bahwasanya pada tahun 752, Kalingga atau Ho-Ling menjadi daerah/wilayah taklukkan kerajaan Sriwijaya. Maka dari itu pada perkembangan selanjutnya kerajaan ini menjadi daerah perdagangan Hindu bersama dengan Tarumanegara dan Melayu.

Salah satu sumber sejarah kerajaan Kalingga berupa sumber lisan adalah kisah lokal yang berkembang di wilayah Jawa Tengah bagian utara. Kisah ini bercerita tentang seorang ratu yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran tanpa padang bulu.

Ratu tersebut bernama Ratu Shima. Ia mendidik rakyatnya agar selalu jujur dan menghukum setiap kejahatan, contohnya pencurian. Pada suatu ketika seorang raja dari seberang ingin menguji kejujuran rakyat Kalingga dengan menaruh sekantung uang emas di persimpangan jalan.

Hingga beberapa tahun lamanya, tidak ada orang yang berani menyentuh kantung berisi uang emas tersebut. Namun, setelah 3 tahun, kantung tersebut disentuh oleh putera mahkota dengan kakinya. Kemudian demi menjunjung hukum, ia menjatuhkan hukuman mati kepada putranya tersebut.

Contents

1. Santanu (632-648)

Bergelar Prabhu Kirathasingha. Beliau pernah mengirimkan duta besarnya ke Cina, pada tahun 632 M dan 640 M. Menurut catatan I-Tshing, diketahui bahwa pada tahun 644 M, datang seorang pendeta buddha dari cina bernama Hwi-Ning. Ia menetap di Kalingga selama 3 tahun.


Kemudian, Hwi-Ning menerjemahkan salah satu kitab suci agama Budha Hinayana yang berbahasa Sanksekerta ke dalam bahasa Cina. Dalam usahanya tersebut Hwi-Ning dibantu oleh seorang pendeta kerajaan Kalingga yang bernama Janabadra.


2. Selendra (648-674)

Bergelar Prabhu Kartikeyasingha sang mokteng Mahamerwacala. Beliau telah dua kali mengirimkan duta besarnya ke Cina, pertama pada tahun 648 M, dan kedua pada tahun 666 M. Diketahui, Beliau wafat di Gunung Mahameru. Dari pernikahan Prabu Kartikeyasingha dengan Dewi Sima, dikaruniai satu Putri dan satu Putra. yaitu :

  • Dewi Parwati, diperisteri oleh raja Mandiminyak dari Galuh,
  • Radiyah Narayana, menjadi menantu raja Jayasinghanegara dari Keling.

3. Maharani Sima (674-695)

Bergelar Sri Maharani Mahisa Suramardini Satyaputikeswara. Beliau adalah Raja yang terkenal dari kerajaan Kalingga. Pada masa pemerintahannya, Hukum dan Keadilan diterapkan secara disiplin. Hal tersebut berlaku bagi seluruh warga negara Kalingga yang melanggar aturan akan diberikan sanksi tegas. Suatu saat seorang saudagar Arab berkeinginan untuk membuktikan ketaatan rakyat Kalingga terhadap hukum yang diterapkan.

Ia meletakkan pundi-pundi uang di jalanan pusat kota. Ternyata tak ada seorangpun yang berani menyentuh atau pun mengambilnya. Hingga suatu hari secara tidak sengaja kaki Putra Mahkota menyentuh pundi-pundi itu. Maka Ratu Sima memerintahkan agar anaknya di potong kakinya sebagai hukuman.

Karena hukuman itu dirasa terlalu berat, para penasehat Ratu memohon agar hukuman diperingan, namun Ratu tetap teguh dengan pendiriannya. Setelah didesak, Ratu Sima memutuskan untuk meringankan hukumannya. Kaki putra mahkota tidak jadi dipotong tetapi hanya jari-jari kakinya saja.

Setelah Ratu Sima wafat pada tahun 695 M, kerajaan Kalingga dibagi menjadi dua wilayah kerajaan, untuk Dewi Parwati di sebelah utara, dan untuk Radiyah Narayana di sebelah selatan. Sang Mandiminyak, suami Dewi Parwati, tidak menggantikan di situ, karena ia menjadi raja di kerajaan Galuh.


4. Dewi Parwati (695-717)

Dari pernikahan Prabhu Mandiminyak dengan Dewi Parwati dikaruniai seorang Putri, bernama Dewi Sannaha. Kemudian Dewi Sannaha naik tahta menggantikan ibundanya.


5. Dewi Sannaha (717-732)

Sannaha menikah dengan raja ketiga dari Kerajaan Galuh, yaitu Bratasenawa. Mereka berdua memiliki Putra yang bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732 M).


6. Narayana (695-732)

Setelah Prabhu Narayana wafat, Beliau digantikan oleh puteranya yaitu Sang Prabhu Dewa Singha.


Masa Kejayaan Kerajaan Kalingga

Masa kepemimpinan Ratu sima menjadi masa keemasan bagi kerajaan kalingga sehingga membuat raja-raja dari kerajaan lain segan, hormat, kagum, sekaligus penasaran. Masa masa itu adalah masa keemasan bagi perkembangan kebudayaan apapun. Agama buddha juga berkembang secara harmonis, sehingga wilayah di sekitar kerajaan Ratu Sima juga sering disebut Di Hyang(tempat bersatunya dua kepercayaan hindu dan buddha).

Dalam bercocok tanam Ratu Sima mengadopsi sistem pertanian dari kerajaan kakak mertuanya. Ia merancang sistem pengairan yang diberi nama subak. Kebudayaan baru ini yang kemudian melahikan istilah Tanibhala, atau masyarakat yang mengolah mata pencahariannya dengan cara bertani atau bercocok tanam.


Kehidupan Politik Kerajaan Kalingga

Pada abad ketujuh masehi kerajaan kalingga dipimpin oleh ratu sima, hukum di kalingga ditegakkan dengan baik sehingga ketertiban dan ketentraman di kalingga berjalan dengan baik.

Menurut naskah parahhayang, Ratu sima memiliki cucu bernama sanaha yang menikah dengan Raja Brantasenawa dari kerajaan galuh. Sanaha memiliki anak bernama sanjaya yang kelas akan menjadi raja mataram kuno. Sepeninggalan Ratu sima, kerajaan Kalingga ditaklukan oleh kerajaan Sriwijaya.


Kehidupan Ekonomi Kerajaan Kalingga

Perekonomian Kerajaan Kalingga bergerak dibidang perdagangan dan pertanian. Bagi masyarakat yang tinggal di pesisir pantai utara di jawa tengah, perdagangan adalah matapencaharian utama mereka. Letaknya yang cukup strategis membuat kalingga sering disinggahi ooleh para pedagang dari luar negeri. Kalingga merupakan daerah penghasil kulit penyu, emas, perak, cula badak, dan gading.

Di Holing ada sumber air asin yang dimanfaatkan untuk membuat garam. Hidup rakyat Holing tenteram, karena tidak ada kejahatan dan kebohongan. Berkat kondisi itu rakyat Ho-ling sangat memperhatikan pendidikan.buktinya rakyat ho-ling sudah mengenal tulisan,selain tulisan masyarakat Ho-ling juga telah mengenal ilmu perbintangan dan dimanfaat dalam bercocok tanam.

Sementara itu, sebagian masyarakat yang tinggal di pedalaman yang subur, memanfaatkan kondisi tanah yang subur tersebut untuk mengembangkan sektor pertanian. Hasil-hasil pertanian yang diperdagangkan antara lain beras dan minuman.

Penduduk kalingga dikenal pandai membuat minuman berasal dari bunga kelapa dan bunga aren. Minuman tesebut memiliki rasa manis dan dapat memabukkan. Dari hasil perdagangan dan pertanian tersebut, penduduk kalingga hidup makmur.


Kehidupan Sosial Kerajaan Kalingga

Kerajaan kalingga hidup dengan teratur,berkat kepemimpinan ratu sima ketentraman dan ketertiban di kerajaan kalingga berlangsung dengan baik. Dalam menegakkan hukum, ratu sima tidak membeda-bedakan antara rakyat dengan kerabatnya sendiri.

Berita tentang ketegasan hukum ratu sima, raja yang bernama T-shih ia adalah kaum muslim arad dan persia, ia menguji kebenaran berita yang ia dengar.beliau memerintahkan anak buahnya untuk meletakkan satu kantong emas di jalan wilayah kerajaan kalingga. Selama tiga tahun kantong tersebut tidak ada yang menyentuh, jika ada yang melihat kantong itu ia berusaha menyingkir. 

Tetapi pada suatu hari, putra mahkota tidak sengaja menginjak kantong tersebut hingga isinya berceceran. Mendengar kejadian tersebut ratu sima marah, dan memerintahkan agar putra mahkota dihukum mati. Tetapi karena para menteri memohon agar putra mahkota mendapat pengampunan. Akhirnya ratu sima hanya memerintahkan agar jari putra mahkota yang menyentuh kantong emas tersebut di potong,hal ini menjadi bukti ketegasan ratu sima.


Kehidupan Agama Kerajaan Kalingga

Kerajaan ini banyak menganut agama Hindu semestinya seperti corak kerajaan ini Hindu, walaupun seperti itu rakyatnya juga ada beberapa agama selain Hindu yaitu Agama Islam dan juga terutama Agama Budha. Dalam catatan ITsing, pada tahun 664-667, pendeta Budha Cina bernama Hwu-ning dengan pembantunya Yun-ki datang ke Ho-ling.

Mereka bersama dengan Joh-napo-t’o-lo menerjemahkan kitab Buddha bagian nirwana. Akan tetapi kitab yang diterjemahkan tersebut sangat berbeda dengan Kitab Suci Budha Mahayana, dengan demikian jelas bahwa holing bukan merupakan penganut agama Budha Mahayana, tetapi menganut agama Budha Hinayana aliran Mulasarastiwada.


Runtuhnya Kerajaan Kalingga

Kerajaan kalingga mengalami kemunduran kemungkinan akibat serangan sriwijaya yang menguasai perdagangan, serangan tersebut mengakibatkan pemerintahan kijen menyingkir ke jawa bagian timur atau mundur ke pedalaman jawa bagian tengah antara tahun 742-755 M.

Bersama melayu dan tarumanegara yang sebelumnya telah ditaklukan kerajaan Sriwijaya. Ketiga kerajaan tersebut menjadi pesaing kuat jaringan perdagangan Sriwijaya-Buddha.


Peninggalan Kerajaan Kalingga

Berikut ini terdapat beberapa peninggalan kerajaan kalingga, sebagai berikut:


1. Prasasti Peninggalan Kerajaan Kalingga

Sebagai berikut:


1. Prasasti Tukmas

Peninggalan Kerajaan Kalingga yang pertama adalah prasasti Tukmas. Prasasti ini ditemukan di Kecamatan Grabak, Magelang, Jawa Tengah. Prasasti Tukmas bertuliskan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta lengkap dengan pahatan beberapa gambar.

Prasasti Tukmas berisi tentang kabar adanya sungai di lereng Gunung Merapi yang airnya jernih, mirip seperti aliran sungai Gangga di India. Adapun gambar-gambar yang termuat di dalamnya adalah gambar trisula, kapak, kendi, cakra, kelasangka, dan bunga teratai. Gambar-gambar tersebut menjadi bukti bahwa kerajaan Kalingga memiliki hubungan erat dengan kebudayaan Hindu dari India.

Letak penemuan prasasti Tukmas yang cukup jauh dari perkiraan ibukota kerajaan juga membuktikan bahwa cakupan wilayah kekuasaan dari Kerajaan Kalingga cukup luas.


2. Prasasti Sojomerto

Prasasti Sojometro adalah prasasti peninggalan Kerajaan Kalingga yang titemukan di wilayah Kabupaten Batang. Dinamakan Sojometro karena prasasti ini ditemukan tepat di dusun yang bernama Sojomerto.

Prasasti Sojomerto bertuliskan huruf Kawi dan berbahasa Melayu Kuno. Dengan wujudnya ini, para ahli memperkirakan bahwa prasasti Sojomerto dibuat pada abad ke 7 Masehi.

Isi prasasti Sojomerto menceritakan tentang kondisi keluarga kerajaan Kalinga. Salah satu tentang pendiri kerajaan yang bernama Dapunta Sailendra. Dari nama tersebut, diperkirakan pendiri Kalingga berasal dari garis keturunan Dinasti Sailendra, penguasa Kerajaan Mataram Kuno di masa sebelumnya.


3. Prasasti Upit

Prasasti Upit adalah sebuah prasasti yang ditemukan di Desa Ngawen, Kec. Ngawen – Kab. Klaten. Isi prasasti ini menceritakan tentang adanya sebuah kampung, bernama kampung upit yang menjadi daerah perdikan (bebas pajak) karena anugerah dari ratu Shima. Saat ini, prasasti upit disimpan di Museum Purbakala, Jawa Tengah di Prambanan, Klaten.


2. Candi Peninggalan Kerajaan Kalingga

Sebagai berikut:


1. Candi Angin

Candi Angin ditemukan di Desa Tempur, Kec. Keling, Jepara, Jawa Tengah. Dinamakan candi angin adalah karena candi ini berdiri di atas daerah yang cukup tinggi, kendati terpaan angin sangat kencang dari waktu ke waktu, candi ini tidak rubuh dan justru tetap kokoh.

Dari analisa karbon, diperkirakan candi angin dibangun pada masa sebelum pembangunan Candi Borobudur. Tidak terdapatnya ornamen-ornamen Hindu Budha membuat candi ini diperkirakan dibangun sebelum kebudayaan Hindu Budha berbaur dengan kebudayaan asli masyarakat Jawa.


2. Candi Bubrah

Candi Bubrah ditemukan di lokasi sekitar candi angin. Dinamakan candi Bubrah karena pada saat ditemukan, kondisi candi ini sudah luluh lantah (Jawa : Bubrah). Dari arsitektur dan gaya bangunannnya, candi ini diperkirakan dibuat pada sekitar abad ke 9 Masehi dengan bercorak kebudayaan Budha. Candi yang dibuat dari bahan batu andesit ini berukuran 12 meter x 12 meter. Saat ditemukan reruntuhan yang tersisa tingginya hanya sekitar 2 meter saja.


3. Situs Puncak Sanga Likur Gunung Muria

Di Puncak Rahtawu (Gunung Muria) dekat dengan Kecamatan Keling di sana terdapat empat arca batu, yaitu arca Batara Guru, Narada, Togog, dan Wisnu. Sampai sekarang belum ada yang bisa memastikan bagaimana mengangkut arca tersebut ke puncak itu mengingat medan yang begitu berat.

Pada tahun 1990, di seputar puncak tersebut, Prof Gunadi dan empat orang tenaga stafnya dari Balai Arkeologi Nasional Yogyakarta (kini Balai Arkeologi Yogyakarta) menemukan Prasasti Rahtawun. Selain empat arca, di kawasan itu ada pula enam tempat pemujaan yang letaknya tersebar dari arah bawah hingga menjelang puncak. Masing-masing diberi nama (pewayangan) Bambang Sakri, Abiyoso, Jonggring Saloko, Sekutrem, Pandu Dewonoto, dan Kamunoyoso.


Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Sejarah Tentang 10 Peninggalan Kerajaan Kalingga: Raja, Masa Kejayaan & Runtuhnya

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Artikel Lainnya:

  1. Kerajaan Mataram Kuno
  2. Kerajaan Majapahit Didirikan Oleh
  3. Sejarah Kerajaan Singasari Lengkap
  4. Siapa yang Mendirikan Kerajaan Demak?

Web Seputar Pengetahuan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *